AREMA, Bukan Sekedar Urusan Sepakbola

Penulis: GedePrama

Arema, selama ini dikenal sebagai klub sepak bola yang ber-home base

di kota dingin Malang. Bukan kabar yang mengagetkan jika klub ini

hampir tidak bisa mengikuti kompetisi Liga Indonesia karena tidak

punya dana. Problem dana memang telah mendarah-daging dalam Arema.

Uniknya, klub berlogo singo edan ini selalu dapat mengatasi problem

itu, bahkan mempu berprestasi lumayan bagus.

Sekali menjadi juara kompetisi Galatama, dan dua kali masuk ke babak

perempat final Liga Indonesia yang telah dicatat Arema. Catatan

prestasi ini cukup untuk menempatkan Arema salah satu tim yang

disegani di kancah Liga Indonesia. Namun yang lebih sering menarik

perhatian publik bola nasional dari Arema dalah polah-tingkah

komunitas supporternya yang dikenal dengan sebutan Aremania.

Aremania banyak dipuji sebagai prototipe supporter sepak bola yang

ideal untuk masa depan sepak-bola Indonesia. Mereka mampu

menggabungkan unsur fanatisme terhadap klub kebanggaan dengan

sportivitas terhadap pemain dan suppoter lawan, serta kreativitas

dalam menghidupkan atmosfer pertandingan.

"Nonton sepakbola di Malang, mengingatkan saya akan pertandingan-

pertandingan sepak-bola di Eropa," begitu komentar pelatih asal

Belanda, Henk Wulem yang terkesima oleh kreativitas Aremania.

Pelatih tim Pelita Solo, Danurwindo suatu ketika juga mengakui,

bermain tandang di Malang layaknya bermain di kandang sendiri.

Meskipun penonton di Stadion Gajayana Malang sampai ke tepi

lapangan, mereka tidak menganggu para pemain lawan dan bersikap

sangat ramah. Tim tamu justru sering mendapatkan dukungan penonton

ketika tim tuan rumah bermain mengecewakan. Komunitas supporter

Pasopati Solo mengakui kelahiran mereka banyak terinspirasi oleh

Aremania.

Militansi Aremania tak diragukan. Mereka sanggup bernyanyi dan

menari sepanjang pertandingan untuk mendukung tim kesayangannya.

Mereka tetap memberi dukungan walaupun tim Arema mengalami

kekalahan. Yang lebih diacungi jempol banyak pihak, mereka

menyanyikan lagu "Padamu negeri" di awal dan di penghujung

pertandingan.

Militansi inilah yang membuat banyak pemain asing, khususnya dari

Chili begitu betah tinggal di Malang. Militansi itu yang membuat

para pemain bermain kesetanan dan sanggup mengalahkan tim-tim yang

lebih unggul. Para pemain bahkan begitu loyal terhadap tim, walaupun

mereka tidak digaji setinggi jika mereka bergabung dengan tim lain.

Arema Sebagai Subkultur

Namun, Arema sesungguhnya bukan sekedar sebuah klub sepakbola

berikut komunitas suppoerternya yang sangat fanatik. Lebih dari itu,

adalah sebuah simbol, atau lambang yang menandakan kebanggaan

terhadap identitas sebagai orang asal Malang. Oleh karena itu,

sebutan Arema bukan sekedar melekat pada komunitas sepak bola, namun

juga digunakan oleh komunitas sopir angkutan umum, tukang becak,

komunitas tinju dan lain-lain.

Dalam perspektif historis, identitas Arema juga dapat dilihat

sebagai bentuk resistensi terhadap Arek Surabaya. Bukan rahasia lagi

jika anak-anak muda Malang dan anak-anak muda Surabaya sejak dahulu

bersaing dalam banyak hal. Mereka bersaing untuk menjadi warga yang

paling superior di Jawa Timur. Mereka bersaing untuk menunjukkan

siapakah yang paling layak untuk menyandang predikat "Arek". Arek

Malang menolak anggapan bahwa mereka adalah "warga kelas dua" di

Jawa Timur, di bawah Arek Surabaya yang menghuni kota yang lebih

besar dan metropolis.

Arek Malang selalu berusaha menciptakan jarak dan "pembeda-pembeda"

dengan Arek Surabaya. Untuk itulah mereka berusaha membangun

identitas tersendiri. Mereka ingin menunjukkan bahwa kiprah Arek

Malang tidak kalah dengan Arek Surabaya. Dalam konteks itulah, kadar

permusuhan Arek Malang terhadap Arek Surabaya begitu mengental dan

dalam kasus-kasus tertentu melebihi permusuhan mereka dengan

komunitas yang secara geografis lebih jauh.

Dalam konteks inilah Arema kemudian menjelma mejadi

semacam "subkultur" dengan identitas, simbol dan karakter yang

berbeda dari subkultur Arek -yang secara umum telah identik dengan

Arek Surabaya. Arek Malang membangun reputasinya di antaranya

melalui musik dan olahraga. Sejarah menunjukkan Malang adalah

gudangnya petinju berprestasi seperti : Thomas Americo, Wongso

Suseno, Polo Sugaray, Monod, dan lain-lain. Malang juga melahirkan

pesepak bola kenamaan : Bambang Nurdiansyah, Jamrawi, Singgih

Pitono, Aji Santoso, Kuncoro, Maryanto, Agus Yuwono, Charis Yulianto

dan lain-lain. Beberapa dari mereka bukan asli Malang, namun mereka

besar di Malang dan bangga disebut Arek Malang.

Berkaitan dengan usaha untuk melakukan resistensi itulah kiranya

Aremania menunjukkan trend perilaku yang berbeda dengan supporter

sepak bola Surabaya. Beberapa tahun belakangan ini, citra supporter

sepak bola Surabaya benar-benar menurun. Mereka benar-benar

diidentikkan dengan julukan "supporter bonek" dengan berbagai

perangai buruknya. Uniknya, pada saat yang bersamaan citra Aremania

semakin membaik. Aremania semakin populer sebagai supporter yang

fanatik, namun kreatif dan sportif.

Dengan kata lain, semakin buruk perilaku supporter sepak-bola

Surabaya, maka akan semakin baik tren perilaku Aremania. Namun hal

ini masih perlu pembuktian lebih jauh. Kita lihat saja nanti, apakah

ketika supporter sepak-bola Surabaya menunjukkan gelagat membaik,

Aremania justu menunjukkan trend sebaliknya. Mudah-mudahan yang

terjadi Arema justru semakin lebih baik lagi.

Arema Sebagai Media Katarsis

Di sisi lain, keberadaan Arema dan Aremania juga bermakna sebagai

media katarsis bagi problem-problem sosial yang dihadapi anak-anak

muda Malang. Jika mau jujur, karakteristik anak-anak muda Malang

tidak jauh beda dengan anak-anak muda Surabaya. Mereka menjadi

bagian dari dinamika tradisi kekerasan, premanisme serta gaya hidup

hedonis yang juga berkembang di Malang. Arek Malang dalam sejarahnya

juga mengenal minum-minuman keras, narkoba dan berbagai bentuk aksi

kejahatan. Omong-omong tentang kekerasan, bahkan ada seloroh yang

menyatakan "Tradisi kekerasan di Malang sudah kondang sejak jaman

Ken Arok".

Walaupun tidak ada data statistik yang meyakinkan, penulis yakin

kebiasaan-kebiasan buruk Arek Malang itu menurun signifikan sejak

mereka Arema berdiri tahun 1987 dan berhasil menjadi simbol

kebanggaan baru bagi Arek Malang. Arema dapat menjadi muara (yang

positip) bagi Arek-arek Malang untuk menumpahkan segala kesumpekan

hidup yang mereka alami. Arema dapat menjadi media katarsis bagi

energi-energi terpendan dalam tubuh anak-anak muda di Malang.

Dalam konteks inilah, fanatisme terhadap Arema menghasilkan efek-

efek positip. Fanatisme itu dapat mengurangi kebiasaan nge-drug,

minuman keras, trek-trekan (balapan liar) dan kebiasan-kebiasan

buruk lain yang lazim dilakukan arek-arek Malang. Fanatisme itu

tidak dibiarkan tumbuh liar, melainkan dikelola dengan baik melalui

pembentukan korwil-korwil Arema berikut berbagai kegiatan

positipnya : pengajian, tahlil bersama, arisan, bakti sosial dan

lain-lain.

Memang mustahil untuk memastikan bahwa 40.000 lebih supporter Arema

semuanya sudah berkelakuan baik. Tentu saja ada satu-dua orang yang

masih suka minum-minuman, ngedrug, nyopet ataupun tindakan kejahatan

yang lain. Meskipun demikian, harus diakui Aremania semakin jauh

dari kesan supporter sepak bola yang sangar, anarkhis dan suka

melakukan kekerasan.

Berdasarkan realitas-realitas di atas, terlihat bahwa Arema

sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga bagi masyarakat Malang

dan sekitarnya. Eksistensi Arema dan Aremania mampu menghadirkan

sejumlah dampak positip bagi kehidupan sosial masyarakat Malang pada

umumnya.

*) Penulis adalah pengamat sepakbola dan staf peneliti ISAI

    Salah satu Motivator Terlaris di Indonesia

Leave a Reply