AREMA, Bukan Sekedar Urusan Sepakbola
November 4, 2006
AREMA, Bukan Sekedar Urusan Sepakbola
Penulis: GedePrama
Arema, selama ini dikenal sebagai klub sepak bola yang ber-home base
di kota dingin Malang. Bukan kabar yang mengagetkan jika klub ini
hampir tidak bisa mengikuti kompetisi Liga Indonesia karena tidak
punya dana. Problem dana memang telah mendarah-daging dalam Arema.
Uniknya, klub berlogo singo edan ini selalu dapat mengatasi problem
itu, bahkan mempu berprestasi lumayan bagus.
Sekali menjadi juara kompetisi Galatama, dan dua kali masuk ke babak
perempat final Liga Indonesia yang telah dicatat Arema. Catatan
prestasi ini cukup untuk menempatkan Arema salah satu tim yang
disegani di kancah Liga Indonesia. Namun yang lebih sering menarik
perhatian publik bola nasional dari Arema dalah polah-tingkah
komunitas supporternya yang dikenal dengan sebutan Aremania.
Aremania banyak dipuji sebagai prototipe supporter sepak bola yang
ideal untuk masa depan sepak-bola Indonesia. Mereka mampu
menggabungkan unsur fanatisme terhadap klub kebanggaan dengan
sportivitas terhadap pemain dan suppoter lawan, serta kreativitas
dalam menghidupkan atmosfer pertandingan.
"Nonton sepakbola di Malang, mengingatkan saya akan pertandingan-
pertandingan sepak-bola di Eropa," begitu komentar pelatih asal
Belanda, Henk Wulem yang terkesima oleh kreativitas Aremania.
Pelatih tim Pelita Solo, Danurwindo suatu ketika juga mengakui,
bermain tandang di Malang layaknya bermain di kandang sendiri.
Meskipun penonton di Stadion Gajayana Malang sampai ke tepi
lapangan, mereka tidak menganggu para pemain lawan dan bersikap
sangat ramah. Tim tamu justru sering mendapatkan dukungan penonton
ketika tim tuan rumah bermain mengecewakan. Komunitas supporter
Pasopati Solo mengakui kelahiran mereka banyak terinspirasi oleh
Aremania.
Militansi Aremania tak diragukan. Mereka sanggup bernyanyi dan
menari sepanjang pertandingan untuk mendukung tim kesayangannya.
Mereka tetap memberi dukungan walaupun tim Arema mengalami
kekalahan. Yang lebih diacungi jempol banyak pihak, mereka
menyanyikan lagu "Padamu negeri" di awal dan di penghujung
pertandingan.
Militansi inilah yang membuat banyak pemain asing, khususnya dari
Chili begitu betah tinggal di Malang. Militansi itu yang membuat
para pemain bermain kesetanan dan sanggup mengalahkan tim-tim yang
lebih unggul. Para pemain bahkan begitu loyal terhadap tim, walaupun
mereka tidak digaji setinggi jika mereka bergabung dengan tim lain.
Arema Sebagai Subkultur
Namun, Arema sesungguhnya bukan sekedar sebuah klub sepakbola
berikut komunitas suppoerternya yang sangat fanatik. Lebih dari itu,
adalah sebuah simbol, atau lambang yang menandakan kebanggaan
terhadap identitas sebagai orang asal Malang. Oleh karena itu,
sebutan Arema bukan sekedar melekat pada komunitas sepak bola, namun
juga digunakan oleh komunitas sopir angkutan umum, tukang becak,
komunitas tinju dan lain-lain.
Dalam perspektif historis, identitas Arema juga dapat dilihat
sebagai bentuk resistensi terhadap Arek Surabaya. Bukan rahasia lagi
jika anak-anak muda Malang dan anak-anak muda Surabaya sejak dahulu
bersaing dalam banyak hal. Mereka bersaing untuk menjadi warga yang
paling superior di Jawa Timur. Mereka bersaing untuk menunjukkan
siapakah yang paling layak untuk menyandang predikat "Arek". Arek
Malang menolak anggapan bahwa mereka adalah "warga kelas dua" di
Jawa Timur, di bawah Arek Surabaya yang menghuni kota yang lebih
besar dan metropolis.
Arek Malang selalu berusaha menciptakan jarak dan "pembeda-pembeda"
dengan Arek Surabaya. Untuk itulah mereka berusaha membangun
identitas tersendiri. Mereka ingin menunjukkan bahwa kiprah Arek
Malang tidak kalah dengan Arek Surabaya. Dalam konteks itulah, kadar
permusuhan Arek Malang terhadap Arek Surabaya begitu mengental dan
dalam kasus-kasus tertentu melebihi permusuhan mereka dengan
komunitas yang secara geografis lebih jauh.
Dalam konteks inilah Arema kemudian menjelma mejadi
semacam "subkultur" dengan identitas, simbol dan karakter yang
berbeda dari subkultur Arek -yang secara umum telah identik dengan
Arek Surabaya. Arek Malang membangun reputasinya di antaranya
melalui musik dan olahraga. Sejarah menunjukkan Malang adalah
gudangnya petinju berprestasi seperti : Thomas Americo, Wongso
Suseno, Polo Sugaray, Monod, dan lain-lain. Malang juga melahirkan
pesepak bola kenamaan : Bambang Nurdiansyah, Jamrawi, Singgih
Pitono, Aji Santoso, Kuncoro, Maryanto, Agus Yuwono, Charis Yulianto
dan lain-lain. Beberapa dari mereka bukan asli Malang, namun mereka
besar di Malang dan bangga disebut Arek Malang.
Berkaitan dengan usaha untuk melakukan resistensi itulah kiranya
Aremania menunjukkan trend perilaku yang berbeda dengan supporter
sepak bola Surabaya. Beberapa tahun belakangan ini, citra supporter
sepak bola Surabaya benar-benar menurun. Mereka benar-benar
diidentikkan dengan julukan "supporter bonek" dengan berbagai
perangai buruknya. Uniknya, pada saat yang bersamaan citra Aremania
semakin membaik. Aremania semakin populer sebagai supporter yang
fanatik, namun kreatif dan sportif.
Dengan kata lain, semakin buruk perilaku supporter sepak-bola
Surabaya, maka akan semakin baik tren perilaku Aremania. Namun hal
ini masih perlu pembuktian lebih jauh. Kita lihat saja nanti, apakah
ketika supporter sepak-bola Surabaya menunjukkan gelagat membaik,
Aremania justu menunjukkan trend sebaliknya. Mudah-mudahan yang
terjadi Arema justru semakin lebih baik lagi.
Arema Sebagai Media Katarsis
Di sisi lain, keberadaan Arema dan Aremania juga bermakna sebagai
media katarsis bagi problem-problem sosial yang dihadapi anak-anak
muda Malang. Jika mau jujur, karakteristik anak-anak muda Malang
tidak jauh beda dengan anak-anak muda Surabaya. Mereka menjadi
bagian dari dinamika tradisi kekerasan, premanisme serta gaya hidup
hedonis yang juga berkembang di Malang. Arek Malang dalam sejarahnya
juga mengenal minum-minuman keras, narkoba dan berbagai bentuk aksi
kejahatan. Omong-omong tentang kekerasan, bahkan ada seloroh yang
menyatakan "Tradisi kekerasan di Malang sudah kondang sejak jaman
Ken Arok".
Walaupun tidak ada data statistik yang meyakinkan, penulis yakin
kebiasaan-kebiasan buruk Arek Malang itu menurun signifikan sejak
mereka Arema berdiri tahun 1987 dan berhasil menjadi simbol
kebanggaan baru bagi Arek Malang. Arema dapat menjadi muara (yang
positip) bagi Arek-arek Malang untuk menumpahkan segala kesumpekan
hidup yang mereka alami. Arema dapat menjadi media katarsis bagi
energi-energi terpendan dalam tubuh anak-anak muda di Malang.
Dalam konteks inilah, fanatisme terhadap Arema menghasilkan efek-
efek positip. Fanatisme itu dapat mengurangi kebiasaan nge-drug,
minuman keras, trek-trekan (balapan liar) dan kebiasan-kebiasan
buruk lain yang lazim dilakukan arek-arek Malang. Fanatisme itu
tidak dibiarkan tumbuh liar, melainkan dikelola dengan baik melalui
pembentukan korwil-korwil Arema berikut berbagai kegiatan
positipnya : pengajian, tahlil bersama, arisan, bakti sosial dan
lain-lain.
Memang mustahil untuk memastikan bahwa 40.000 lebih supporter Arema
semuanya sudah berkelakuan baik. Tentu saja ada satu-dua orang yang
masih suka minum-minuman, ngedrug, nyopet ataupun tindakan kejahatan
yang lain. Meskipun demikian, harus diakui Aremania semakin jauh
dari kesan supporter sepak bola yang sangar, anarkhis dan suka
melakukan kekerasan.
Berdasarkan realitas-realitas di atas, terlihat bahwa Arema
sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga bagi masyarakat Malang
dan sekitarnya. Eksistensi Arema dan Aremania mampu menghadirkan
sejumlah dampak positip bagi kehidupan sosial masyarakat Malang pada
umumnya.
*) Penulis adalah pengamat sepakbola dan staf peneliti ISAI
Salah satu Motivator Terlaris di Indonesia